Stockholm Syndrome: Tetap Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa

  • Wednesday, March 15, 2017
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Sumber : Pexels

Pernah dengar curhat teman Kamu di mana mereka mengaku merasa kesal, sedih, pusing, dan jengkel terhadap perilaku pasangannya yang selalu membuat masalah tapi, anehnya teman-teman Kamu tidak kunjung putus dari pasangannya? 

Padahal Kamu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pacar temanmu memperlakukan dengan semaunya. Atau malah Kamu sendiri korbannya? Hati-hati karena bisa saja Stockholm Syndrome bisa menyerang siapa saja termasuk temanmu bahkan Kamu.

Dilansir dari BBC News, istilah Stockholm Syndrome muncul sekitar tahun 1970-an saat terjadi pengepungan bank dengan menyandera para pegawainya selama 6 hari. Anehnya, para korban tidak marah bahkan ada salah satu wanita yang jatuh cinta dengan sang penyandera hingga rela meninggalkan tunangannya.

Istilah ini juga melekat dengan sosok Patty Hearst, pewaris koran California yang diculik oleh militan revolusioner pada tahun 1974. Uniknya, gadis ini justru bergabung dengan komplotan penculiknya dan ikut melibatkan diri dalam aksi perampokan hingga akhirnya Patty Hearst pun dipenjara.

Withelma Ortiz | TIME
Kebanyakan orang tahu istilah Stockholm ini selalu dikait-kaitkan dengan kaskus penyanderaan dan melibatkan seorang wanita. Ada satu kasus cukup parah terjadi dilansir dari The New York Times yaitu kisah seorang wanita bernama Withelma Ortiz atau sering dipanggil T.

Sejak berumur 10 tahun Ia dijanjikan oleh seorang pria bahwa pria tersebut mampu mengubah hidupnya. Keluarga T sangat berantakan, ayah biologisnya saja dipenjara. Setelah pergi dengan pria tersebut, hidup T memang berubah lebih baik. Tapi dengan cara yang salah karena pria tersebut justru menjual T kepada lelaki hidung belang di sekitar the West Coast.

Selang 5 tahun praktek pria tersebut tercium polisi. Ia pun ditangkap. Pada persidangan, T enggan bersaksi untuk pria tersebut padahal Ia sudah disalah gunakan.

Dari kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Stockholm Syndrome merupakan penyakit psikologi di mana seseorang tetap menyukai bahkan mencintai orang yang 'menganiaya' mereka karena menerima hal tersebut sebagai takdir yang harus dijalani.

Ngeri? Banget!

Nah, jangan dikira kejadian mengerikan tersebut tidak akan menghampiri Kamu. Contoh gampangnya adalah saat Kamu atau teman Kamu tetap bertahan dalam hubungan yang salah dan tidak ada keingininan untuk menyudahinya.

Stockholm Syndrome dapat mengerogoti kewarasan kamu saat pasangan mulai cemburuan lalu bertindak posesif dan perlahan mengontrol hidup Kamu. Jika Kamu tidak menurutinya, pacar bukannya sadar malah Kamu diperlakukan kasar.

Setelah diperlakukan seenaknya, pasanganmu dengan entengnya menarik simpati Kamu dengan meminta maaf dan memberi alasan kalau Ia takut kehilanganmu.

Kamu pun mulai menarik diri dari lingkungan karena kontrol dari pasangan. Hidupmu seolah dalam genggamannya. Tapi, Kamu nggak marah. Kamu menerimanya dengan ikhlas, sabar, dan berimajinasi bahwa pasangan akan berubah suatu saat nanti. Logikamu mulai terkikis. Kamu sangat yakin kalau tindakan pasanganmu itu adalah bukti cinta sehingga Kamu harus mengimbanginya juga dengan cara nurut saja ketika dikontrol. Kamu pun memaklumi segala tindakanya.

Jika sudah terjerumus dalam Stockholm Syndrome, akan sulit bagimu untuk lepas dari situasi tersebut kecuali disadarkan oleh terapis atau menemui kejadian yang telak menampar kesadaranmu.

Di Indonesia sendiri banyak kasus Stockholm Syndrome yang mengakibatkan sang korban meninggal. Rata-rata semua berawal dari kecemburuan yang berakhir abusive seperti berita "Cemburu, Anjar Tusuk Perut Pacar Lalu Nekat Bunuh Diri" atau berita "Cemburu, Pria di Tapanuli Nekat Bakar Istrinya Dalam Mobil"
Sumber : Pexels

Para korban Stockholm Sydnrome juga akan mengalami trauma setelah keluar dari 'Zona Segitiga Bermuda' tersebut seperti krisis kepercayaan diri, takut jatuh cinta lagi, merasa kurang berharga, dan masih banyak lagi. Bahkan, jika korban tersebut tengah membaca tulisan ini pun, Ia merasa bahwa Ia sama sekali tidak mengalaminya alias denial.

Kamu tidak ingin seperti itu, 'kan? Maka... cobalah untuk intropeksi atas hubunganmu dengan pasangan sebelum terlambat. Minta pendapat beberapa orang terdekatmu agar pikiran jauh lebih objektif. Karena kadangkala kita dibutakan sehingga tidak bisa melihat mana baik mana benar jika sudah mencintai pasangan. Jika memang perlu, Kamu dapat meminta bantuan psikiater dalam penyelasaiannya bisa dengan psikoterapi bahkan hipnoterapi.

You Might Also Like

0 Komentar