POSTINGAN GARIS KERAS: Menikah Sebelum Mapan, Yakin?

  • Thursday, February 02, 2017
  • By Penulis Cabutan
  • 2 Comments

(Sumber : Pexels)

Sampai sekarang, masih aja ada yang percaya kalau sebaiknya nikah itu dilakukan sebelum mapan. Karena katanya sih rejeki akan datang sendiri setelah menikah. Padahal, bila nggak menikah pun kalau saatnya mapan ya pasti mapan. Tinggal bagaimana usaha Elo aja.

Yang lucu, menikah masih dijadikan "solusi" dari masalah yang lagi Elo hadapi. Contohnya...
"Kesepian? Nikah aja!"
"Miskin? Nikah aja!"
"Nganggur? Nikah aja!"
Secara logika, Kenapa seorang yang udah nikah bisa jadi berduit ya karena tercambuk oleh pasangannya. Kan harus menghidupi. Kalau nggak, emang mau makan daun? Atau nunggu nasi hibahan dari tetangga, saudara, bahkan orang tua? Ups, sorry kebablasan. 

Menikah sebelum mapan itu sama seperti mendahului garis kehidupan Elo yang seharusnya lulus kuliah, cari kerja, mapan, dan selanjutnya nikah. Kalau ini posisi nikahnya dimajuin ke posisi sebelum mapan. 

Coba liat bagan sederhana yang gue bikin ini :
(Yang Sewajarnya)
(Kenyataan)


Yang paling miris sih setelah nikah, masih nebeng di rumah orang tua, masih disuapin orang tua, terus disedekahi keluarga. Daripada kejadiannya seperti itu mending nggak perlu maksain nikah daripada hidup sebagai parasit keluarga.

Elo sukses jika setelah menikah Elo jadi mandiri, nggak bergantung sama orang tua dan keluarga lagi. Sekeras apapun, Elo sanggup jalani berdua. Tentunya, keteguhan tersebut hanya bisa Elo dapet kalau Elo udah MAPAN.
Berpikirlah dengan logika. Jangan mau ditipu media apalagi media yang dengan gampangnya melintirin ayat. Bahkan, setelah gue search tentang "menikah sebelum mapan" isinya hanya "pembodohan berkedok agama". Sorry to say, deh...

Contohnya kayak gini, nih...


Rumus Anti Kemapanan #woi #gakgitu

Entah asal mulanya ini rumus dari mana. Dia menggambarkan mapan secara ketinggian. Gini deh, emang selamanya gaji lo akan 3jt? Gaji gue aja udah lebih dari itu. Apalagi kalau Elo kerja di Astra, 15jt sudah dikantong! Dari rumus ini, kita diajarkan lebih memilih menikah meski hidup susah daripada nggak nikah tapi nunggu mapan.

ITU TONGKOL BANGET!

Yang membuat gue ketawa adalah patokan gaji yang cuma 3jt rupiah. Apakah selama 16 tahun kerja gaji Elo akan segitu? Wah kalo iya berarti Elo bekerja di perusahaan yang salah. Mending jad entrepreneur aja!

Oke back to topic...

Mapan yang gue maksud bukan yang harus punya mobil dan rumah sendiri, Tapi setidaknya, penghasilan Elo dan pasangan sudah sanggup untuk menopang kehidupan Kalian berdua mulai dari kebutuhan primer hingga sekunder (Belajar IPS lagi kalau nggak tau). Katagori belum mapan ketika Elo masih belum mampu hidup mandiri.

Makanya, gue bilang gambar rumus anti kemapanan di atas itu sangat melebih-lebihkan. Cuma orang yang gampang dibego-begoin yang bakal percaya itungan aspal tersebut.

(Baca Juga : Katanya, Sih... Ini Ruginya Pacaran)

Nikah itu sebetulnya "institusi" yang dibangun dengan sengaja untuk mengikat seseorang dengan pasangan hidupnya sebagai landasan kontrol sosial. Supaya nggak seenaknya bisa samber sana, samber sini.

Nah, semua kepercayaan gue balikin ke Elo. Kalau gue sih ogah ya menikah sebelum mapan meski orang tua dan keluarga gue udah ngerongrong nyuruh nikah. Padahal gue masih 24. Kalau Elo masih percaya kalau nikah sebelum mapan itu layak, ya silakan. Tapi, resiko ditangung sendiri, ya!

Kebanyakan dari mereka yang nikah muda adalah orang-orang napsuan yang takut dosa. Cek lapangan kalau nggak percaya. Mungkin Elo juga salah-satu di antaranya.

You Might Also Like

2 Komentar

  1. Mantap Chin...
    Awalnya gw bingung, tapi akhirnya tercerahkan...

    Kalimat ini paling gw setuju : "Mapan yang gue maksud bukan yang harus punya mobil dan rumah sendiri, Tapi setidaknya, penghasilan Elo dan pasangan sudah sanggup untuk menopang kehidupan Kalian berdua mulai dari kebutuhan primer hingga sekunder"

    Untung nya sebelum nikah, gw & cewe sdh bisa hidup mandiri, tanpa membebani orang lain, khusunya orangtua...

    ReplyDelete