Untuk Kamu yang akan Menikah Denganku

  • Thursday, January 19, 2017
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : kali ini, gue mau eksperimen menggunakan gaya penulisan ala-ala website berlogo oranye yang terkenal banget di kalangan anak muda karena postingan romansanya yang kebanyakan bertema melankolis mendayu-dayu. Akankah gue sanggup menulis dengan gaya seperti itu? :p

---
(Inilah penderitaan yang akan kuhadapi saat resepsi. Suntiang yang berat dan besar. Ilustrasi diambil dari http://thebridedept.com/)


Sayangku, tak terasa hampir setengah windu lamanya kita bersama dalam ikatan ini dan akhirnya kita akan bersiap menuju jenjang berikutnya. Jenjang penuh mimpi bagaikan MLM. Padahal sejatinya pernikahan itu penuh dengan tantangan-tantangan baru yang lebih rumit jika kita tidak tahu bagaimana menghadapinya.

Aku hampir gila dan tidak bisa tidur memikirkan rencana apa yang harus aku persiapkan untuk hari itu. Tentu saja hal ini pun mengganggu tidurmu yang nyenyak karena pada awalnya pernikahan cepat ini paksaan permintaan dari orang tuaku.

Bak perlombaan, karena saudara sebayaku yang lain sudah menikah. Kita pun dipaksa untuk mengikuti jejak mereka. Padahal, pernikahan tidaklah seindah itu. Apalagi ketika anak lahir, akan memberikan beban finansial untuk kebutuhannya dan hal tersebut harus dipersiapkan dengan matang. Kamu pun pasti tidak ingin kan gagal dalam mendidik anak? Sama, aku juga punya idealisme sendiri yang ingin aku jadikan standard dalam mendidiknya kelak.

Ditambah lagi, pernikahan tidak hanya soal beranak. Kita bukan binatang yang hanya tahu bagaimana cara berkembang biak dan membesarkan anak dengan cara apa adanya. Banyak yang harus kita benahi sebelum memiliki momongan.

Tentu saja, ini bukanlah hal mudah karena aku dan Kamu harus bekerja sama. Kita harus mengatur bagaimana berkomunikasi yang efektif, kita harus mengurangi drama, kita harus membangun komitmen yang lebih serius, kita harus membuat aturan, dan hukuman jika terjadi pelanggaran.

Setiap hari, kita pun harus memiliki waktu kesempatan berdua melakukan quality time bersama dan membicarakan tentang rencana yang harus direalisasikan serta penyelesaian atas masalah-masalah yang kita hadapi.

Aku tidak ingin memiliki hubungan yang gagal seperti orang-orang. Aku tidak ingin divorce, dan aku ingin memiliki hubungan yang sehat. Standar yang kumiliki amatlah tinggi, dan aku yakin Kamu pun memiliki standarisasi pasangan yang sama tingginya.

Selama sisa waktu sebelum kita beranjak ke jenjang berikutnya, sesungguhnya aku ingin memperbaiki segala yang harus diperbaiki bersamamu. Karena kalau masalah sexual attraction, emotional attraction, dan intelectual attraction kita sudah cocok. Tinggal gimana kia bisa bersama menaiki anak tangga selanjutnya.

Dan ku tahu ini butuh usaha.

You Might Also Like

0 Komentar