Traveling Murah ke Pulau Semak Daun

  • Monday, November 28, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

(dokumen pribadi)

Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau dengan laut yang indah di Kepulauan Seribu. Kalau ditempuh dari Pulau Pramuka kira-kira bisa menghabiskan sekitar satu jam perjalanan menggunakan kapal kecil.

Sabtu lalu, gue bersama teman-teman kantor mengunjungi pulau tersebut buat mengusir penat dari sibuknya pekerjaan. Karena memang memperbolehkan membawa orang luar, gue pun gak mau bahagia sendiran. Gue ajak pacar ikut bergabung sama anak-anak kantor.

Perjalanan dari kantor sekitar jam 6 pagi. Kami meluncur menuju Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke dan naik kapal Pesona menuju pulau Pramuka. Ongkos yang dikeluarkan untuk menaiki kapal ini sebesar 45 ribu. Perjalanan ditempuh selama 3 jam. Kapal start jam 8 dan tiba di Pulau Pramuka jam 11.

Gue yang gak pernah keluar-keluar ini pun takjub melihat warna airnya yang hijau kebiru-biruan. Gue bisa melihat dasar laut dengan jelas. Setelah turun dari kapal, kami pun disambut oleh Ibu Linda. Untuk mencapai Pulau Semak Daun, kami menggunakan jasanya. Untuk harga sendiri, bisa dikatakan sangat murah. Per orang cukup merogoh kocek sebesar 50 ribu rupiah. Harga segitu sudah termasuk antar-jemput Pulau Semak Daun-Pramuka, snorkeling, dan pesanan ikan 4 kg buat bakar-bakar malamnya. Rombongan kami sendiri hanya ber-12.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Semak Daun, kami sempatkan untuk makan di ramesan yang letaknya dekat dengan Masjid sambal menikmati pemandangan laut yang bikin nafsu untuk nyebur. Harga yang dipatok untuk turis pun murah. Nggak sampai 20ribu itu udah bonus pakai cumi segede gaban dan segelas es teh manis.

(took by Bram)


Setelah Zuhur, kami pun berangkat dengan kapal kecil milik Ibu Linda yang langsung dinahkodai oleh sang suami. Sedangkan, trainer untuk Snorkling sendiri merupakan anaknya. 

(... gue gak tau siapa yang foto gue :v)

Karena masih siang bolong dan cuaca masih terik. Kami memutuskan untuk membangun tenda dulu. Sehingga, Kami pun sepakat menuju Pulau Semak Daun dulu baru snorkeling. Setelah tiba di sana, mata gue nggak bisa lepas melihat warna air lautnya jang berwarna teal bening sampai ke dasar. Warna yang nggak akan pernah ditemukan di pantai Jakarta.

(dokumen pribadi)

Kami memilih untuk membangun tenda di sisi kiri pulau (jika dilihat dari dermaga) yang langsung menghadap pantai yang tentu saja menawarkan warna yang bikin nafsu pengen nyebur.

Setelah membangun tenda dan hammock, Kami kembali ke kapal dan menuju penangkaran ikan hiu. Sayangnya sih ikan hiunya masih kecil-kecil. Kata teman gue, kalau mau lihat yang besar-besar kudu ke Karimun Jawa. Mungkin next trip bisa buat gue jelajahi.

(took by Bram)

Puas melihat anak-anak hiu dan berfoto ria, kami pun melanjutkan perjalanan ke titik-titik di mana layak untuk snorkeling. Ini adalah kali pertama gue melakukannya. Takut? Jelas! Tapi, penasaran! Apalagi Mas Bram membawa kasur angin yang siap diapungkan di TKP.

Setelah menggunakan perlengkapan snorkeling, gue takut banget. Mau turun aja kudu di tangga kapal. Padahal udah dibilang, “Lompat aja nggak apa-apa, nggak bakal tenggelam” tapi gue takut. Akhirnya, gue pelan-pelan masuk dan panik! Ya, PANIK! Karena ada kebocoran di bagian hidung sehingga gue yang masih belum terbiasa reflek nyium air laut. Rasanya, perih! Udah melambaikan tangan tapi nggak satupun yang ngeh kalo gue mulai sekarat.

Akhirnya gue bertahan, berusaha menjaga keseimbangan dan kestabilan. Gue membuang air yang nyangsang di hidung dan kembali mencoba snorkeling. Apa yang gue lihat? Kedalaman laut yang kelam…. Meski warnanya masih biru pucat. Seolah di sanalah akhirat itu. Oke, ini lebay.

Gue berusaha berenang menuju keramaian teman-teman, dan gue melihat hamparan terumbu karang berwarna cream senada. Ketika sedang asik-asiknya berenang. Tiba-tiba teman-teman gue berteriak, “Cinta, Rangganya kelelep!” Karena cowok gue mengalami hal yang sama kaya gue yaitu, kebocoran.

Parahnya cowok gue gak bisa berenang. Berbeda dengan gue yang lumayan bisa berenang. Salah seorang temen gue pun mengajak tukeran alat pernapasan dan kita pun kembali berenang. Kerusuhan mulai terjadi setelah Kasur nista itu diturunkan. Semua berebut ingin menaiki Kasur tersebut, termasuk gue. Sekalinya ada yang sukses naik sendirian, Kasur tersebut pun digulingkan.

Di spot snorkeling kedua, gue sama pacar turun bareng. Karena merasa bersalah juga sih membiarkan si pacar sendirian sedangkan gue asik berenang. Gue ajak berenang ke arah jam 10. Setelah sampai sana, gue baru sadar kalau gue sendirian. “ANJIR, KEMANA COWOK GUE?”

Gue pun kembali ke titik awal, dan lagi-lagi teman-teman kantor gue berteriak, “Cinta….”

“Oiiii” jawab gue.

“Kirain Cintanya ilang lagi. Nih Rangganya!!”

Entah gue mau ketawa atau kasihan…. Tapi yang jelas, tawa gue lebih kenceng waktu itu.

Setelah puas snorkeling di dekat Pulau Air, kami kembali ke Semak Daun dan mulai merapikan diri. Malam pun tiba dan diisi dengan bakar-bakar ikan, minum kopi, dan ngobrol seru dengan modus ke tenda sebelah karena ceweknya bening. Para cowok dengan muka polosnya memberi ikan bakar ke tenda sebelah.

(dokumen pribadi)

Malam terasa panjang karena sangat engap dan panas. Itu karena tenda kami dilapisi oleh satu lagi lapisan luar (waterproof) karena jam 10 sebelumnya, keseruan kami dibubarkan oleh suara hujan dan angin kencang dari kejauhan. TERNYATA HUJANNYA GAK SAMPAI PULAU!

Sampai jam 2 gue, pacar gue, dan 2 orang teman lagi nggak bisa tidur dengan damai. Gue bahkan sempat duduk-duduk di pinggir pantai sambal membunuh waktu. Hingga gue mencium bau karet kebakar dan pandan ditambah lagi cowok gue liat sekelebat “orang” lari dengan cepat, kami pun memutuskan untuk memaksakan diri tidur.

Keesokan hari, kami pergi dari pulau jam 9. Setelah di Pulau Pramuka, kami sempatkan pula mengintip penangkaran penyu dan kami melewati TKP kala Tragedi Ahok terjadi.

(Took By Ori)

Penyunya bikin gemes, sekali diangkat yang gede, 7 orang langsung kebasahan karena kakinya nggak bisa diem. Alhamdulillah kami basah LOL

Pukul 12 kami pun kembali ke pulau Jawa alias Jakarta dan menerima kenyataan bahwa, laut Jakarta sangat naujubilah….

Ohya, kalau Kalian ingin menggunakan Jasa Ibu Linda yang murah meriah, silakan langsung hubungi dan bernegosiasi dengan Beliau : 0819 0547 7202

Sebagai penutup tulisan kali ini, Pulau Semak Daun memiliki pesona laut yang indah. Meski fasilitas di pulau tersebut sangat terbatas. Kamar mandi ada 3 bilik namun kurang terawatt. Air juga adanya air payau dan kita harus nimba sendiri. Lalu, kalau mau beli air bersih di beberapa sumber katanya Cuma goceng. Tapi, kemarin bapaknya minta 20 ribu dan nggak mau ditawar. Lalu, biaya untuk menginap di pulau ini pun 30 ribu rupiah. Padahal gue liat di berbagai sumber katanya Cuma kena charge 10ribu untuk retribusi. Entah karena memang sudah naik, atau kami yang kena palak.

You Might Also Like

0 Komentar