Tragedi Penistaan Agama oleh Ahok

  • Thursday, November 17, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments


Well, tiap hari gue harus dihadapkan dengan komentar orang-orang sok pinter mengenai kasus yang sedang mendera Ahok yang masih menjadi trending hingga detik tulisan ini gue turunkan.

DISCLAIMER : Gue gak bela ahok, gue juga gak bela FPI, gue gak bela siapa-siapa, gue bukan ahoker, KTP gue Tangerang, gue juga bukan pendukung demo 4 November dan #NOSARA

Sudah hampir lebih dari 2 minggu kerjaan gue bertambah berkali-kali lipat setelah video Ahok mengenai surat Al-Maidah 51 menjadi viral di Internet. Berbagai komentar masuk ke website tempat gue kerja dan tiap hari gue harus memoderasi komentar-komentar itu baik komentar yang berupa hujatan, SARA GARIS KERAS, bijaksana, sok bijak, pinter, sok pinter, dan sebagainya. Hingga membuat gue yang sebetulnya selalu membutakan diri dengan dunia politik jadi pengen ikut berkoar juga. Tapi, gue gak mau berkoar di Facebook karena takut mengundang rasa tidak nyaman dari segelintir orang. Ditambah lagi gue sendiri pun dengan ringan tangan mengunfollow teman-teman FB yang garis keras.

Garis keras disini yaitu pembela ahok sampai mati, dan super agamis sampai mati. Ada beberapa yang tetap gue follow meski mereka ikut demo karena mereka menunjukan sikap yang bijaksana di facebook-nya. Tapi, yang bikin geregetan itu adalah manusia garis keras yang merasa paling dewa melebihi TUHAN ngotot-ngototan mencari kemenangan. Sumpah ini annoying.

Mau diedit menggunakan kata "pakai" atau nggak, di mata gue Ahok TETEP SALAH. karena kata yang paling bermasalah bukan kata "pakai" tapi "dibohongi."

"Dibohongi Almaidah 51" memang memiliki makna ganda. Karena bahasa Indonesia memang rumit. Sekalipun jika memang ayat tersebut digunakan oleh lawan politiknya, arti dari ayat tersebut memang betul. Kita dilarang memilih pemimpin beragama beda (sebagai muslim gue pun jujur gak setuju, karena gue penganut pluralisme. Tapi, jika kalian memang memegang teguh agama islam silakan kalian pegang ayat ini).

Jadi sekalipun dijadikan alat untuk membohongi ya nggak bisa juga dibilang gitu. Orang ayatnya memang bilang seperti itu. KECUALI jika selama ini kita SALAH TAFSIR terhadap ayat tersebut lalu dengan tafsir yang salah kita gunakan untuk membohongi orang-orang menggunakan Al-Maidah:51 tersebut.

Tapi, yasudah toh dia sudah minta maaf ya nggak usah dibikin ribet. Gue pun kesel pas liat baik video full maupun hasil potongan. Gue juga marah kenapa Ahok bisa-bisanya ngomong seperti itu. Tapi, gue udah memaafkan karena dia udah minta maaf.

Namun, sekesel-kesel gue sama Ahok kemarin... Gue lebih kesel sama para buzzer dan fans fanatik yang terus-menerus menyulut api pertikaian. Kenapa orang kita gampang banget diprovokasi?

Di saat Ahok dicecar,

Lalu, gimana dengan bom di Gereja Samarida?

Kemana orang-orang saat Vihara pun ikut dibom setelah demo?

Kenapa semua terlalu sibuk mengurusi Ahok padahal di sisi lain masih ada tindak terorisme yang membuat umat tak tenang beribadah? Apa karena mereka minoritas jadi kurang disorot? Di mana kemanusiaan?

Kenapa nggak ada demo tandingan minta keadilan karena Gereja dan Vihara dibom? Kenapa untuk kedua kasus tersebut semua seolah tuli? Kalian KE MANA? Padahal nyawa melayang akibat tindakan terorisme yang mengatas namakan jihad tersebut.

Islam terlihat sangat E-G-O-I-S. Meskipun ini sendiri salah umatnya, bukan agamanya.

Jujur aja gue curiga ada konspirasi di mari. Tapi, apalah gue ini cuma seorang amatir dalam hal politik. Gue sendiri pun nggak tau gimana kebenarannya. Tapi, sumpah gue ngerasa miris.

Yah, Welcome to Indonesia di mana agama diagung-agungkan tapi moral nol.

Setiap gue denger lagu Barasuara yang Bahas Bahasa, otak gue gka bisa berpikir jernih. Gue langsung teringat tragedi video dan demo 4 november. Lebih baik kita memang berhati-hati dalam berucap. Apalagi jika kita seorang public figure. Karena nila setitik rusak susu sebelangga.


You Might Also Like

0 Komentar