PHASE 07 - MENYINGKAP MISTERI

  • Monday, September 19, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : 
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.



[image took from mythdunia.blogspot.com]

PHASE 07 - MENYINGKAP MISTERI


Jumat, 16 September 2016 pukul 8 malam.

Keadaanku di kantor sore tadi semakin memburuk. Seluruh tubuhku seperti dialiri listrik statis. Aliran itu menggeliat dari kepala hingga kaki. Beberapa kali aku melakukan pembersihan energi negatif namun tidak ada efek yang signifikan. Aku hanya merasakan ada energi buruk mengalir ke tanah namun tidak habis-habis. Aku kenapa?

Hingga pukul 10 malam, aku berusaha membersihkan energi kotor ini namun, aku tidak sanggup. Rasanya lemas. Kepalaku seperti didekap oleh tempurung—entah tempurung apa. Rasanya, aku ingin menggeliat ke manapun—asal rasa berat di kepala ini hilang. Tapi, sayang sekali semuanya hanyalah harapan. Aku tidak sanggup menanggungnya sendiri.

Teman-teman Widya, yang kini juga sudah menjadi temanku berusaha keras memberikan masukan. Namun—energi sudah habis terkuras. Hingga waktu menunjukan pukul 11 malam, aku terduduk di kursi meja makan—hatiku berteriak, “SIAPAPUN TOLONG AKU!” aku sendiri pun sudah tidak bisa menangis lagi—karna hal busuk seperti ini seharusnya tidak untuk ditangisi tapi dihadapi dan diselesaikan.

Putra mengirim ‘teman’nya ke lokasiku. Dia bilang, “Coba tengok jendela…. Ada apa?” aku tahu di sana ada yang memerhatikan tapi aku tidak tahu itu apa. Aku hanya mengatakan sejenis kunti. Jawabannya beda dengan om Mawan yang menjawab, “Itu Wowo…” alias genderuwo. Well… mereka memvonis ajna alias mata ketigaku rusak. Ini akibat ditempelin jin parasit tidak berguna yang berjanji tapi ingkar, yang teriak ingin melindungi tapi justru badankulah yang dijadikan perisainya.

Badanku hancur—tidak secara sungguhan, tapi badan halusku. Bacak kebocoran di mana-mana. Cakraku juga berantakan—bahkan temanmu mengatakan kalau warna auraku ambigu. Aku tertunduk lemas—dia—jin itu sudah mempermainkanku selama ini—di saat aku memang tidak menggunakan kemampuanku secara maksimal. Justru aku malah mengabaikannya.

Pukul 12 malam pun tiba. Aku seharusnya sudah terlelap karena Sabtu mendapat giliran piket. Tapi, masalahku belum selesai. Kepalaku terasa mau pecah. Aku pun terduduk di kamar lantai satu. Aku chat dengan mereka sambil merileksan badan. Tante peri yang katanya mau astral projection belum bisa ke sini karena dia harus mengobati pasiennya. Akhirnya, Putra dan Babeh menuju kamarku.

“Lo kerasa berat ya kepala lo?” tanya Putra.

“Iya, kayak didekep.”

“Itu ada sesuatu di kepala lo—seperti mahkota tapi bukan juga. Sepertinya itu pemberian. Lo pernah main sama jin antara umur 3 sampai 5 tahun dan lo dikasih itu. Inget gak?”

“Gue gak inget apa-apa taun segitu.” Jawab gue lemah.

“Tapi posisinya, rada miring sih. Makanya sakit.” Tambah Putra.

Babeh ikut pula dalam penelusuran ini, dia berbicara dengan penghuni kamar yang ternyata seorang nenek-nenek dari Gunung Batur—entah gimana dia bisa nyasar di sini. Sedangkan Putra, ia berusaha mengurangi rasa sakitku yang tak berdaya. Aku merasakan tumpahan air tapi tidak basah mengguyur kepalaku. Rasanya segar—sekali.

Setelah penelusuran ini, aku tahu kalau penghlihatanku lagi kacau. Karena di kamar ini hanya ada nenek-nenek dengan rambut digulung—bukan kunti, sedangkan kemarin visualisasiku sedang sakit karena ketempelan jin sialan ini.

Lalu, tentang jin yang menyamar jadi J ini. Tenang saja, aku sudah tahu identitas dia yang sebenarnya. Sejenis jin parasit—yang mungkin memanfaatkan situasi, kondisi, dan toleransi 6 tahun silam. Sangat manipulatif, tidak berguna, inang, ampas, dan lebih baik dimutilasi. Semua itu bukan imajinasi, kenangan tahun 2010 itu memang asli—tapi, semuanya manipulasi.

Manipulasi jin yang mendekatiku atas nama cinta padahal butuh perisai untuk perlindungan dirinya sendiri.

Jin itu berasal dari Tangkuban Perahu—dan jangan tanya kepadaku kenapa jin brengsek ini ada di lokasiku. Aku sendiri tidak pernah menginjakan kaki ke gunung tersebut. Paling hanya bermain ke rumah tante di sekitar sana.

Well… jika bisa, rasanya aku ingin membakar jin ini dengan tanganku sendiri.

Segala kasus telah tersingkap. Kini aku sadar—betapa mengerikannya alam sana—sebuah dimensi yang tidak jelas—yang menyimpan banyak misteri. Meski aku sendiri punya “TIKET PERS” untuk menjelajahi alam tersebut—namun aku tidak akan melakukannya kecuali jika aku sudah mumpuni.


Minggu depan, aku akan menemui mereka di sekitaran Jakarta Selatan untuk me-repair tubuhku yang sangat rusak. Semoga—aku bisa lepas dari hal busuk ini.

You Might Also Like

0 Komentar