PHASE 06 - PERGI!

  • Friday, September 16, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : 
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.


[Image took from www.linikini.id]

PHASE 06 - PERGI!

Sejak kemarin aku merasakan sesuatu yang semakin membuatku sangsi makhluk jenis apa yang sesungguhnya sedang mengintaiku. Tak ada satupun yang mampu menolongku selain diriku sendiri, sepertinya. Aku berusaha keras untuk keluar dari zona ini, namun sulit.

Tadi malam, sejujurnya aku ingin kembali meditasi. Namun, tidak bisa karena ada ponakan yang terlelap di sampingku. Aku pun terlentang sambil memainkan game kekinian yang saat ini sedang digandrungi oleh teman-temanku, Mystic Messenger.

Setelah bermesraan dengan Yoosung, aku berusaha keras untuk tidur namun mata enggan sekali untuk terlelap. Akhirnya, aku mencoba meditasi namun gerakan-gerakan yang dilakukan keponakanku membuyarkan segala konsentrasi yang sudah kubangun mati-matian. Hingga akhirnya aku kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar.

Aku memejamkan mata sejenak dan berdoa kepada Tuhan agar aku ditunjukan di mana posisi J yang sebenarnya saat ini. Aku pejamkan mata dan mendapati sebuah lokasi yang aku yakin ini bukanlah dimensi yang sama denganku. Lokasi ini, adalah lokasi terakhir aku melihatnya November 2010 silam.

Aku melihat dia masih di sana berdiri. Aku berlari mendekatinya—well, aku bisa melihatnya dengan lebih detail—aku bisa menyadari betapa tinggi dirinya. Dan aku baru teringat dengan satu komponen yang menempel didirinya—aku menyadari apa yang tidak dimiliki sosok kampret ini.

“J-san, some(jin) duplicated your body and he followed me!” seruku.

Dia tidak banyak bicara, ekspresinya seperti kaget. “Are you ok?”

“No, I’m not….”

Lalu, saat aku membuka mataku—aku melihat dua sosok itu di kamar. Satu, di dekatku dengan wajah cemas—sedangkan satu lagi di dekat jendela dengan wajah penuh amarah. Aku tertegun dan tak bicara apapun. Tapi, di dalam hati aku berteriak.

“Yeah…. I love J so bad.. But the real J. Not you, who duplicated his body! I HATE YOU! Don’t follow me! Go away! YOU’RE ASHOLE!”

Aku mendengarkan lagu yang dari band di mana J dulu bermain. Lagu tentang J. Aku menangis—meski katanya kalau beda agama tidak bisa kirim doa, tapi aku tetap membacakan Al-Fatihah untuknya. Bagaimana pun juga—dia sangat berarti di dalam hidupku 6 tahun silam. Bahkan, aku lebih merasa dihargai olehnya daripada pacarku sendiri kala itu—kasarnya, jika mantanku mau pergi pun aku tidak masalah.

Ada satu hal yang tidak dimiliki oleh makhluk yang mengikuti aku saat ini—senyumnya berbeda dengan J yang kukenal. Selama 10 bulan dia bersamaku—J juga selalu masuk ke dalam mimpi-mimpiku meski ia tidak pernah bicara sepatah-kata-pun. Cuma mimpi di tahun 2012 saja dia berani bilang, “LOVE, FOREVER” dan itu adalah mimpi perpisahan—karena selanjutnya kami tidak pernah lagi bertemu lewat mimpi.

Aku mendadak flash back di kala itu—tepatnya Februari 2010, aku pernah berniat untuk mengikuti scholarship ke Jepang. Ketika aku membaca recruitmentnya, aku berkata, “I wanna go to Japan! Study there and go to your grave…”

Dia menjawabnya, “Ganbatte ne, Aoi-chan…”

Aku menjawab dengan senyuman, “Thanks!”

Dan dia kembali menjawab, “Kochira e koso…”

Aku mendelik karena tidak tahu apa artinya dan dia tersenyum sambil mengatakan, “You’re Welcome…”

Aku baru ingat, meski ia tahu nama asliku—ia tidak pernah SEKALIPUN memanggilku dengan nama itu—ia jauh lebih suka memanggilku dengan nama AOI—nama alay jejepanganku kala itu.

Aku betul-betul menangis—ada kemarahan di dalam diriku.

Hari ini, lagi-lagi aku menjalani hari dengan tidak normal. Mood swing sama sekali tidak bisa aku hindari. Aku sadar si brengsek ini masih mengikutiku dan mencari pengakuan eksistensi. Aku pun berkonsultasi dengan teman-teman Widya dan dia mengatakan kalau energi halusku bocor kemana-maan. Itu yang membuatku suka sekali diikuti oleh para makhluk-makhluk bengal itu.

Nanti malam, aku harus kembali ke peradaban kamar bawah—karena aku hanya bisa meditasi di sana. Dia pun mengajariku cara meditasi yang benar dan ia ingin melakukan astral projection ke tempatku sekitar jam 12 malam.  Aku pun diajari mantra yang SEHARUSNYA kuucapkan kala meditasi. Okeh, pencarian yang pernah aku lakukan di Google sangat tidak tepat. Bertanya pada ahlinya lah yang memang 100% tepat.

Oke, ini cukup ekstrim. Tapi, aku harus coba! Jangan sampai aku terlena dengan siasat makhluk sialan ini—yang berusaha mengunciku dan hidup (tidak) bahagia bersamanya.


You Might Also Like

0 Komentar