PHASE 05 - TEGAS

  • Thursday, September 15, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : 
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.

PREVIOUS PHASE 04 - KERAGUAN


[Image took from www.yourtango.com]

PHASE 05 - TEGAS

Malam hari memang malam yang sangat cocok untuk melakukan meditasi total. Apa pun tujuannya. Sebetulnya, meditasi tidak hanya untuk membangkitkan mata ketiga yang terlelap namun bisa juga untuk menjaga kestabilan tubuh. Misalnya jika kamu mempelajari Kudalini. Kudalini pun membutuhkan meditasi dengan cara yang sedikit berbeda dari cara meditasi biasa. Meski dari meditasiku pun aku melakukan gerakan tersebut di akhir selama kurang lebih 10 menit.

Gerakan itu berfungsi untuk menyelaraskan apa yang dilihat oleh mata ketiga dan mata fisik. Terdengar konyol memang, bahkan cara ini pun aku temukan di Google. Namun, akurasinya tepat. Meski memang tida sekali langsung bisa. Cukup nikmati prosesnya saja.

Aku semakin yakin kalau sosok ini hanyalah berupa duplikasi. Maka dari itu aku bertindak tegas. Dia semakin annoying cukup berbeda dengan sosok yang kukenal 6 tahun silam yang sangat bersemangat dan tahu batas (meski sempat kelepasan juga).

Sosok 6 tahun yang lalu, dia selalu bermain dengan alam bawah sadarku—dia selalu bermain di antara mimpi-mimpiku—menciptakan kenangan-kenangan yang menyejukan—membuatku bangun dengan keadaan tersenyum ceria. Namun, sosok ini—sama sekali tidak. Malah jatuhnya seperti mengusik kehidupanku.

Dalam meditasiku tadi malam, aku dengan tegas menolaknya untuk mengikutiku—jika memang dia sosok yang kukenal, aku hanya memintanya membuktikan—tapi, ternyata dia sama sekali tidak mampu menyanggupinya. Payah… maka dari itu, aku menganggap dia hanyalah omong kosong.

Bahkan, saat meditasi semalam sempat melihat wujud yang—unindentified—seperti monster tapi bukan juga. Seperti manusia—ya dia punya tangan dan kaki—tapi tidak seperti manusia—mungkin, itu petunjuk bahwa dia Cuma menduplikasi sosok yang sangat kukenal 6 tahun silam.

Setelah aku selesai menyelaraskan apa yang aku harapkan dalam tubuh payah ini. Aku merasa kalau tidur di kamar bawah sama sekali tidak aman untuk tadi malam. Bahkan, aku betul-betul melihat tante kunti dengan rambut megar. Dengan senyuman kampret, aku pun melangkah ke kamar lantai dua yang ternyata kosong pula. Tidur di sana jauh lebih tenag daripada di kamar bawah. Aku merasa—jika aku bertahan di kamar bawah aka nada kejadian menakjubkan menimpaku. Dan tentunya aku tidak ingin itu terjadi.

“Well, if you the real J please make me sure… But, if you can’t…. PLEASE GO AWAY!!!! I HATE YOU EXACLY!” Jerit gue dengan menggunakan mata batin. Lalu, aku pun tertidur dengan mimpi yang hanya sebuah mimpi.

Kali ini, makhluk itu lebih banyak diam—atau jangan-jangan wujud itu betul-betul wujud murninya yang asli? Wah, brengsek sekali jika itu nyata.

Aku semakin yakin jika dia memang fake. Well, aku harus move on. Dan melepas masa lalu itu. Jika tidak ingin ada makhluk kampret yang lagi-lagi menyamar menggunakan wujudnya.

Tentu saja, aku punya alasan mengapa aku memiliki simpati sedalam itu kepada makhluk yang mengikutiku 6 tahun silam. Mungkin, aku akan menceritakannya nanti.


You Might Also Like

0 Komentar