PHASE 02 - SEBUAH NAMA

  • Monday, September 12, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : 
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.


PHASE 02 – SEBUAH NAMA

[Ilustration Image took from : liveanddare.com]


Ini adalah sebuah kesalahan. Aku menyeruput kopiku. Aku teringat dahulu, aku pernah terduduk lunglai di lantai—menatap langit-langit kamar nanar. Aku terlalu overthinking setelah mengalami beberapa kejadian yang jelas-jelas tidak masuk akal. Seandainya aku tidak nekat memakai nama itu sebagai nama alias jepang-jepanganku—pasti segalanya tidak akan seperti ini, kan?

Tapi, penyesalan hanyalah penyesalan. Tak akan bisa mengubah takdir yang tengah berjalan. Apalagi kembali ke masa lalu—tentu saja, cara seperti itu tidak akan pernah ditemukan.

Beberapa waktu setelah kepergiannya, aku dengan tanpa bersalahnya memakai nama dia tanpa izin. Karena menurutku—nama itu memiliki makna yang keren—makna tersebut menjadi doa untuk diriku sendiri. Yuuichi, Yuu berarti keberanian—sedangkan Ichi berarti satu.

Atas dasar itu aku menggunakan nama tersebut. Bukan karena aku nge-fans. Astaga, gaya dia saja membuatku menelan ludah. Hahaha! Sangat feminim, mengalahkanku yang sangat tampan! Padahal aku perempuan.

Wen bilang, dia mendatangi beberapa orang di lokasi yang beraneka ragam di seluruh penjuru dunia. Meski ia memberi perhatian lebih padaku. Dia memiliki satu ketakutan—hanya tidak ingin dilupakan. Aku sadar ketakutannya. Ketakutan itulah yang membuatnya berkelana mengunjungi orang-orang yang masih ‘mengenangnya’. Tapi, mungkin kasusku dimatanya sedikit berbeda.

Ia membuatku yang bukan fans menjadi menaruh perhatian lebih akannya. Bahkan, aku sempat melukisnya. Jadi pada Maret 2010, di sekolahku ada latihan menggambar menggunakan cat akrilik. Aku memutuskan untuk menggambarnya—karena Cuma ia yang terpintas di benakku. Hingga kini lukisannya masih terpajang dengan damai di kamarku.

Aku menggambarnya dengan hati, meski kemampuan gambarku tergolong biasa-biasa saja, namun—aku melukisnya dengan perasaan. Di hari terakhir sebelum deadline, aku mengerjakan sisanya pada dinihari. Aku bela-belain tidur lebih awal agar bisa bangun tengah malam. Pada jam segitulah konsentrasiku jauh lebih baik dan moodku sangat maksimal. Aku mengerjakan di lantai, sedangkan dia tidur-tiduran di kasurku like a boss. Setelah jadi, dia berkata padaku…. “Kirei desu yo…” aku hanya tersenyum dan bilang makasih.

Menggambar dengan hati, akan membuat hasil karyamu jadi lebih hidup. Hasil lukisanku berhasil menarik perhatian guru seniku hingga terpaku beberapa saat melihat sambil menimang-nimang hasil karya pertamaku tersebut. Lalu, dengan muka bersinar ia menjadikan lukisanku contoh untuk anak-anak lain. Aku mendengar decakan kagum mereka. Aku pun mendapat nilai sempurna.

Ketika pulang sekolah aku mengatakan, “This is my purezento for you. Happy birthday.” Aku berjalan berdampingan dengannya. Dia terlihat sangat tinggi dengan stage costum tersebut. Bahkan aku hanya sedadanya saja. Itu adalah pertama kalinya tanganku serasa di genggam. Memang kami tidak bisa bersentuhan—tapi, bukan berarti kami tidak bisa berpura-pura bersentuhan kan?

Aku nikmati energi statis menggulung telapak tangan kiriku. Kedekatan yang tidak biasa ini hanya bisa kudekap rapat-rapat—tak akan ada yang percaya kecuali Wen, Vel, dan Vay. Aku tidak bisa menceritakan hal ini sembarangan.

Namun, kali ini—aku ingin membagikan padamu yang tersesat di blog-ku. Dengan cara penulisan yang berbeda dari biasanya. Hehehe…. Kini, aku semakin yakin jika aku tidak bermimpi dan berdelusi—karena An pun mengakuinya—dia sendiri pun mengatakan kasusku sangat aneh. Tapi, setelah lihat dengan mata kelapanya sendiri—aku yakin ia mempercayaiku.

Kepulangannya ke sisiku masih menyimpan tanda tanya. Bahkan, sekarang pun aku sadar ia tengah duduk di sisi kiri memperhatikanku menulis kisah ini.



Semua ini terjadi karena nama yang pernah kucatut—enam tahun silam.


[Dokumen Pribadi]


You Might Also Like

0 Komentar