PHASE 01 - PERTEMUAN

  • Sunday, September 11, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer :
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.


PHASE 01 – PERTEMUAN

 [image Ilustration took from : Kompasiana]

Kejadian yang baru saja ku alami beberapa waktu ini memaksaku kembali ke masa lalu. Meski aku sudah tidak bisa mengingat keseluruhan dengan baik, setidaknya—aku punya beberapa catatan kecil di blog pelarianku kala itu. Sebuah blogspot abal yang memang didesain tidak menggunakan SEO apapun hanya untukku membuang ampas yang mengendap di sudut pikiranku.

Kala itu, tepatnya 24 Januari 2010. Aku bersama sang pacar tengah menikmati sore yang lumayan mendung sambil mendengarkan lagu dari band kesukaannya. Kebetulan—band tersebut telah merilis album baru setelah sepeninggal sang bassist akibat sakit.

Aku sejujurnya kurang menikmati music yang melantun. Bagiku, band tersebut sangatlah aneh. Mereka menggunakan unsur metal dan classical denga suara vocalist super besar ala-ala tahun 80an. Tapi, pacarku suka—aku mendengarkannya karena aku menghargai pacarku. Bahkan, aku meminta copy-nya meskipun belum tentu juga akan aku putar.

Sang surya pun kembali ke peraduannya. Pacarku pun sudah pulang ke kotanya yang jauh berada di galaxy sebelah saking jauhnya (read : Bekasi).

Aku pun terlelap tanpa ada pikiran apapun kala itu. Aku lelah seharian ngobrol bersama pasanganku. Hingga aku pun bermimpi. Aku berada di sebuah ruang gelap. Berdiri—dengan baju tidurku. Lalu, tepat di depanku berdirilah sesosok “perempuan” mengenakan gaun ala abat pertengahan dengan rambut keriting menjutai menatapku penuh ancaman. Matanya sangat tajam bak elang yang hendak menelan mangsanya hidup-hidup. Hingga aku terjaga pada pukul 2 dini hari.

“Tadi itu apaaan?” bisikku heran.

Hawa kamar terasa lebih “aneh” dari seharusnya. Aku pun sangat sadar ada sesosok “perempuan” berdiri di pintu kamar tengah menatapku—dengan tatapan yang sama seperti di mimpi.

Aku membanting tubuh ke kasur—meraih Nokia-ku dan mengirim pesan ke salah satu teman yang kebetulan mengetahui sosok yang baru saja kulihat.

Itu bukanlah sosok sembarangan—ia adalah seorang bassist dari band yang albumnya baru saja kubajak sore tadi. Imajinasi macam apa ini? Ini sangat tidak mungkin! Dia tidak mungkin ada di sini! Untuk apa? Aku bukan fansnya! Aku bukan siapa-siapa. Bahkan, kala berita kematiannya menyebar pun aku memang merepostnya—tapi, aku sama sekali tidak menangisinya.

Lalu, mengapa ia bisa tersesat di kamarku?

Aku—menelan ludah. “Ini pasti imajinasi!” pikirku pusing. Hingga akhirnya aku kembali bisa tertidur—dan terbangun pagi harinya. Bahkan, saat aku berangkat ke sekolah pun—aku sadar sosok itu mengikutiku. Ia duduk di jok belakang.

Ayah melirik ke belakang beberapa kali—aku curiga dia bisa membaca apa kecemasanku hari itu. Meski—kami sama-sama dingin dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa—berpura-pura tidak tahu—berpura-pura buta meski sejatinya aku bisa merasakan seperti ini berkat darah darinya.

Temanku—Vay membalas pesan yang kukirimkan tengah malam tadi. Ia mengaku bermimpi sang gitaris sakit—ah, Cuma mimpi. Yang kurasakan jauh lebih pelik dari apa yang ia mimpikan.

Selasa, 26 Januari 2010. Jam dinding menunjukan pukul 3 dinihari. Aku masih terjaga dengan hawa kamar yang aneh. Aku sadar dia di sini. Aku pun menyalakan laptop jadul hibahan sang ayah. Aku memutar lagu—yang seharusnya tidak kuputar. Yaitu, lagu dari band tersebut—yang mengisahkan si bassit. Aku meraih gitar yang tergeletak using di sisi kamar dan memainkan bassnya. Entah mengapa—aku melakukan hal konyol tersebut.

Dan seorang amatir macamku bisa memainkan bassnya dengan akurasi 70% itu ajaib! Ketika musiknya sampai di bridge, aku melihat sisi kanan laptop. Di sana ada mouse dan aku melihat ada tangan dengan manset hitam yang mengait di jari tengah. “APAAN ITU?” delikku. Meski hanya setengah detik aku melihatnya. Tapi, aku sadar, dengan posisi macam itu berarti dia saat itu sedang menaungiku dari belakang. Aku pun melepas earphone yang menempel, meletakkan gitar, dan mengumpat di balik selimut tebal. Aku—betul-betul kaget.

Pukul 5 subuh, aku menhubungi teman dekatku yang kebetulan memiliki kelebihan sama sepertiku. Bedanya, kelebihannya terpelihara sedangkan aku terbengkalai. Dia kekeuh mengatakan jika aku hanya berdelusi. YA! AKU HARAP JUGA AKU HANYA BERDELUSI!

Hingga ia pun memutuskan untuk datang ke rumahku. Kami ngobrol ngalur-ngidul seperti biasanya hingga jam menunjukan pukul 4 sore. Tiba-tiba Wen, temanku menjadi diam. Aku tanya, “Kenapa, Wen?” dia tetap diam. Dia menjadi murung.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk ke toilet dan—tak kembali. Iya, dia kabur dari rumahku tanpa izin sama sekali. Aku tentu saja kesal! Daripada kesal, mending aku tidur sore saja. Ohya, kenapa tanggal 26 Januari aku tidak ke sekolah padahal itu hari selasa? Karena di sekolah sedang ada baksos, dan tidak wajib seluruh siswa masuk.

Malam harinya, aku terbangun oleh telepon dari Wen. Dia minta maaf karena asal meninggalkan rumahku tanpa pamit. Dia bilang kalau tadi di depan pintu ada makhluk menggunakan jubah hitam seperti vampire melihatnya dengan tatapan menghunus. Dia tidak berani menceritakannya karena takut aku jadi merinding—padahal walau dia tidak cerita pun aku sadar sosok itu memang ada di sini. Wen takut wujudnya yang memang tidak biasa—sedangkan, aku yang sudah terbiasa dengan gaya personil band yang aneh-aneh seperti itu hanya bisa tertawa miris.

Setan mana yang iseng menyamar jadi sosok J?

Setan mana yang iseng ingin menakutiku?

Namun—sayang sekali, aku kali ini tidak bisa berkelit—karena Wen bilang…. Sosok itu asli.

Di sinilah awal mula aku mengenalnya… Sosok yang terdampar di kamarku kala aku berusia 18 tahun. Di saat aku berharap aku tak harus berurusan lagi dengan alam sana karena aku sangat lelah sejak SMP selalu dihantui dengan berbagai makhluk yang ingin berteman denganku.

Aku tidak bisa lari. Padahal aku sudah menghindari salat biar aku tidak melihat lagi—tapi sepertinya percuma.

Setelah itu, aku mulai mengenal band itu—band yang selama ini aku hindari karena musiknya yang aneh—dan aku menikmatinya. Aku belajar bass—meski awalnya, aku sangat meremehkan posisi bassist tapi aku sadar, kalau posisi ini sama sekali tidak bisa diremehkan. Aku mulai menikmati musik-musik yang menonjolkan bass player di dalamnya. Aku seperti terhipnotis. Dan—aku menerima kehadirannya di hidupku.



You Might Also Like

0 Komentar