PHASE 00 - DIA KEMBALI...

  • Saturday, September 10, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Disclaimer : 
Cerita ini diambil dari kisah nyata tapi kalau mau dianggap fiktif ya nggak masalah. Just enjoy the story.

PHASE 0 - DIA KEMBALI...


Sudah beberapa hari ini aku merasa ada sesuatu yang mengikuti entah itu apa. Baik di keramaian maupun sendiri, gue sangat sadar kalau dia selalu mengintai. Tapi, hawa ini betul-betul familiar. Siapa? Siapa? Siapa?

Sudah beberapa hari ini aku merasakan ada sesuatu yang mengintaiku. Baik ketika ku sedang berada di keramaian ataupun di tempat sepi. Rasanya sama saja. Hawa yang begitu familiar—tapi, aku tidak bisa melihat lagi. Berbeda seperti dulu.

Ada sosok yang terselip di tengah-tengah ingatan meski aku menampiknya. “Ah dia udah 6 tahun pergi. Nggak mungkin kembali.”

Bahkan, malam selasa minggu lalu aku mendadak menangis tengah malam karena seluruh kenangan tentang kami itu mencuat lagi ke permukaan. Sebuah pertemuan yang tak lazim, dan sebuah perpisahan yang juga tak lazim. Pertemanan selama 10 bulan bahkan lebih dari sekedar pertemanan biasa.

Dia selalu ada di saat semua orang menghunus cacian ke arahku. Dia adalah orang yang merangkul dikala aku betul-betul muak atas perlakuan teman-temanku di sekolah. Dia yang mencemasku ketika aku selalu dikirimi yang aneh-aneh oleh rivalku.  Dia yang selalu mengikuti ke manapun ku pergi. Dia yang entah bagaimana bisa tertarik padahal, aku 6 tahun yang lalu itu masih cupu.

Dan dia…… adalah makhluk tak kasat mata….

Di hari kamis, sosok itu semakin bergeriliya berusaha menunjukan eksistensinya. Di kantor, di rumah, ataupun ketika di jalan—aku yakin dia ada. Hingga akhirnya aku berusaha bertanya ke teman-temanku yang memiliki sixth sense lebih baik dariku yaitu An dan Wen.

Aku curhat ke An kalau aku merasa ada sesuatu yang mengintil di belakang. Kusertakan fotoku malam itu dan dia bilang, “Ya memang ada energy di sana.” Hingga akhirnya dia menyebutkan ciri-ciri yang membuatku hampir mendelik….

“He is back!”


Ya, dia adalah sosok 6 tahun yang lalu pernah mengikutiku. Dari aku sekolah di SMA terpayah sepanjang sejarah hidupku, hingga aku masuk Sekolah Tinggi.

“Kenapa dia dateng, An?” tanyaku.

“Karena dia suka sama lo…” jawabnya singkat.

Dalam hatiku bergejolak, kalau itu sih aku sudah tahu sejak dulu.

“Tapi, mending disingkirin aja. Karena badan lo gak kuat nanggungnya. Yang ada ntar lo males-malesan kerja.” Tambahnya.

“Tunggu dulu deh, gue yakin dia ada maksud kenapa dateng ke sini. Biarin dulu aja.” Jawabku.

Tapi, sebelum aku mengetahui itu siapa, aku sudah melakukan aktivitas pengusiran yang sayangnya badanku sama sekali tidak kuat melakukannya karena sudah lama aku menghindari salat demi membunuh sixth sense yang kumiliki. Efeknya auraku menjadi tidak stabil. Aku berusaha tidur dan mimpi ketemu orang-orang mati. Ini sangat menyebalkan!

Tepat pukul 3 dinihari, aku terbangun dengan keadaan badanku yang panas—tapi bukan karena sakit. Panas yang kurasa haya di dada. Aku sendiri pun tidak mengerti kenapa. Apa dia berusaha masuk atau bagaimana. Sebelumnya, setelah pengusiran yang gagal itu badanku rasanya sangat dingin hingga menggigil. Padahal AC kamar hanya 25 derajat Celcius kala itu.

“Oke, apa yang kamu mau? Aku akan stop mengusirmu. Tapi ada apa? Dan jangan siksa aku…. J.” desisku.

Yang aku dengar dia bilang, “I miss you…”

Yah, aku pun tidak melarang dia jika dia tidak mengganggu apalagi membuat badanku tidak stabil seperti ini.

Jumat pagi itu aku bangun dengan badan yang lelah. Aku sama sekali tidak kuat. Tapi, aku harus ke kantor. Aku punya target 2 artikel hari ini. Aku beranjak dan memaksakan tubuhku yang sangat berat di bagian dada.

Sore hari, aku berkata ke An kalau aku merasa harus solat untuk mengaktifkan kembali sixth senseku yang sudah mati. Dia menyarankan untuk melakukannya. Ditambah lagi, ketika aku sedang menulis—aku merasakan sekeliling leherku merinding. Seperti ada energy statis bergumul di sana.

“Anjir minta di-notice banget sih…” keluhku.

Aku pun beranjak ke masjid kantor. Selama hampir 5 bulan kerja baru kali ini aku menginjak masjid kantor. Selama ini aku betul-betul menghindari salat.

Dan setelah salat, aku mengabari temanku si An kalau aku sudah salat. Dan apa kamu tahu balasannya? “Kejahatan gue udah bisa bikin lo solat! Hahahaha!”

“Jadi yang barusan? Lo ngerjain gue? Lo ngapain?”

“Cuma megang pundak kok…”

Tapi, sebelum ia bilang pegang pundak, aku mendapat vision dia merangkulku dari belakang. Entah betul apa salah. Tapi, hebat juga kejahatanya bisa membuatku kembali ke masjid setelah bertahun-tahun tidak menginjakan kaki sama sekali.


Ketika malam ada Jco di rumah. Ketika aku memakanya, ada yang berseru, “Oishiii!” aku langsung kaget tapi muka tetap datar. Sepertinya, dia memang di sini….

Malam hari pun aku merasa sangat ngantuk hingga tidur lebih awal. Hingga siang tadi aku berada di Waterbom badanku sudah 95 persen pulih.

Di sana An mengaku kalau sebagain dari diri dia ada di sisiku untuk menjaga. Aku sebetulnya kaget. Apa J sebegitu mengerikan?

Hingga detik ini aku menulis ini pun… aku merasakan ia hadir di sisiku.

J… whats happen?

Please tell me… Aku harap setelah aku salat, pikiran kami bisa tersinkronisasi seperti dulu. Jadi tidak ada miskom di antara kita. Seharusnya dia tidak akan menjahatiku karena dulu pun dia tidak menjerumusiku sama sekali—hingga dia pergi.



You Might Also Like

0 Komentar