Budaya Gila Nikah di Indonesia

  • Wednesday, September 21, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments

Waktu kecil..... Guru kita pernah bertanya, "Kalau sudah besar ingin jadi apa?"

Lalu, kita akan menjawab dengan lantang, "Dokter, Bu!"

"Pramugari, Bu!"

Atau yang lebih ekstrim lagi, "Astronot, Bu!"

Well, indah banget ya masa kecil itu. Seiring berjalannya waktu, saat ini kita telah dewasa. Banyak dari kita sudah mengkhianati impian di masa kecil. Karena impian tersebut telah didoktrin oleh orang tua, lingkungan, dan juga guru.

Contoh nyatanya adalah, ponakan gue.

"Aurel mau jadi apa?"

Dia jawab, "Mau jadi komikus!"

Tapi, ada gencatan dari Kakak gue yang dapat gue lihat. Dia ingin Aurel jadi Dokter. Gue menghasutnya agar tidak masuk SMA IPA dan Kakak gue lumayan sewot (padahal dia sendiri waktu SMA sengaja jelek-jelekin nilai MATEMATIKnya sampai rapornya merah biar masuk IPS :p)

Nah, terus dari contoh tersebut apa hubungannya dengan judul artikel kali ini?

Got it?

Nggak?

Aduh, kode gue kurang keras, ya? #loh

(Disambit pake spokat busuk)

Apa korelasi antara cita-cita masa kecil dan budaya gila nikah di Indonesia?

Betul sekali, itu karena doktrin yang ditanamkan melalui alam sadar dan mengendap ke dunia alam BAWAH sadarmu. Hiii... ngeri ya!


Doktrin ini dikirimkan baik secara soft maupun hard ke dalam diri. Contoh soft-nya adalah pertanyaan membosankan yang selalu menghantui hari raya kita yaitu.... : KAPAN NIKAH?

Sedangkan, cara hard-nya adalah gebrakan dari Orang Tua yang memaksa si anak buru-buru nikah cari jodoh padahal umur anak itu masih 20 tahun dan masih jadi mahasiswa semester 6 yang tengah sibuk-sibuknya dengan praktikum. Atau malah harus mengikuti keegoisan orang tua dengan menjodohkan si anak dengan rekan bisnisnya.

Doktrin tersebut sama dengan doktrin yang diberikan orang tua dan lingkungan kepada anak bahwa cita-cita elegan itu adalah menjadi dokter, ilmuwan, insinyur, pramugari, pilot, dan lain-lainnya. Gue belum pernah lihat orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bercita-cita menjadi entrepreneur sukses seperti Achmad Zaky yang berhasil dengan BukaLapak-nya (jika ada tolong kenalin ke gue, mau gue ucapin selamat).

Doktrin yang dikirimkan secara soft :
  • Pertanyaan kapan nikah dan sebangsanya.
  • Brainwash Media Massa dalam bentuk apapun
  • Satu per satu teman nikah (latah)
Doktrin yang dikirimkan secara hard :
  • PAKSAAN ORANG TUA

Banyak faktor yang menyebakan budaya "GILA NIKAH" berkembang biak di Indonesia. budaya ini sangat bertentangan sekali dengan budaya yang melekat di negara maju seperti Amerika, Korea, dan jepang misalnya.

Di antaranya, banyak orang yang menjual mimpi kalau NIKAH ITU PASTI BAHAGIA. Padahal belum tentu juga. Lalu, ada juga yang "mengajarkan" seperti ini : BURUAN DEH NIKAH KEBURU BOSEN SAMA PACARNYA! Well, itu tolol kuadrat namanya. Dalam setiap relation pasti akan menemukan kejenuhan atau rasa bosan. Tinggal cara kitanya aja gimana ngatasin. Terus mentang-mentang udah nikah nggak bisa kabur kalau bosen? HAHAHA~

Doktrin tentang pernikahan semakin menjadi-jadi seiring bertambah terkenalnya portal informasi di MEDIA MASSA di mana banyak author yang rada-rada obsesi dengan pernikahan menulis artikel pembelaan tentang pernikahan di usia muda. Salah satunya adalah, "Menikalah Sebelum Mapan" (silakan cari sendiri linknya) I just laughed over LOLOLOL ditambah lagi ada teman gue yang share artikel ini "JANGAN TAKUT MENIKAH DENGAN ORANG YANG MISKIN HARTA" Inner me : emangnya.... nikah makan ayat? Semua tentu butuh persiapan, lah! LOL Rejeki Tuhan yang ngatur kalau nikah jadi banyak rejeki? Dudududu~ kalau nikah sama pengangguran rejekinya juga paling hibahan belas kasihan keluarga dudududu~

Rasanya pengen ngakak guling-guling di sawah karena masih banyak orang terbodohi dengan artikel-artikel tersebut. Gue gak nyalahin agamanya, karena yang bikin agama carut-marut ya usernya sendiri.

Selain dari media massa, faktor lingkungan pun berperan sangat besar. Apalagi di beberapa wilayah Indonesia nikah muda dengan kesiapan yang belum matang masih menjadi tradisi. Bahkan, ada artikel lucu dari Liputan6 yang bertajuk : "Ketimbang Sekolah, Remaja Indonesia Pilih Menikah Dini."

Mereka rela menanggalkan pendidikan demi pernikahan. Padahal mengurus anak pun butuh pengetahuan dan intelektualitas demi menghasilkan anak yang cerdas. Karena bikin anak bukan untuk coba-coba. Setelah nikah langsung ditanyain "UDAH ISI BELUM?" Kita ini manusia, kan? Bukan hewan yang hidup untuk nafsu dan beranak LOL sorry, kasar.

Alasan melakukan pernikahan padahal belum siap materi dan mental pun tidak jauh-jauh dari faktor kepuasan (sorry) selangkangan. Sebuah insekuritas level presiden yang memang telah mendarah daging di setiap hati sanubari orang tua yang berpikiran kolot dan anak-anak usia muda yang telah tercuci otaknya dengan doktrin gila tentang pernikahan.

Banyak dari mereka yang setuju dengan pernikaha muda karena faktor zinah. Padahal pernikahan bukan sekedar bergulat di ranjang. Masih banyak hal yang harus di-manage agar pernikahan berjalan dengan lancar dan damai. Dan tentu saja itu bukan perkara mudah. Kalau tujuannya cuma itu, lebih baik cari cewek uzbekistan di Mangga Besar aja! Takut dosa? Berarti selamat, kamu tergolong ke dalam golongan manusia cupu yang takut dosa sedangkan nikah tujuannya cuma biar halal!

Well, silahkan lah kamu menikah jika materi dan mentalmu sudah matang. Bukan malah ikutan gila nikah dan berlomba-lomba ke pelaminan, padahal kamu belum tau pasanganmu itu berlian atau ampas ditambah lagi kamu juga belum sadar tentang kemampuan diri sendiri dan belum dewasa. Lihatlah banyak yang cerai akibat nikah muda apalagi nikah karena MBA (Married By Accident). Bahkan, di Depok 3 Remaja SMA menikah setiap bulannya, ini NGERI!

NIKAH ITU PILIHAN, BUKAN TUJUAN.... APALAGI CITA-CITA

You Might Also Like

0 Komentar