Catatan Kecil di Sisa Waktu

  • Sunday, May 01, 2016
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments


Satu keputusan besar lagi-lagi harus gue tetapin setelah hampir satu tahun kewarasan gue makin berkurang. Pergolakan demi pergolakan selalu menerkam, mengurung dalam kegetiran yang seolah tidak berujung.

Gue udah mencoba, tetapi semakin lama menjalaninya gue semakin sakit.

Gue udah mencoba mencintainya, tapi semakin ke sini dia semakin (berniat) menghancurkan.

Jika gue ingin, rasanya gue mau teriak sekenceng apa yang gue bisa. Tekanan ini terlalu membuat perih. Bahkan, gue yang terbiasa bermain dengan kata-kata di blog ini pun mendadak jadi bisu dan lumpuh. Gue sadar emosi apa yang gue rasa tapi gue lumpuh untuk mengungkapkannya.

Oh kenapa? Apa gue harus berurusan dengan psikiater?

Semakin lama menjalaninya, hasrat gue semakin lumpuh. Rasa muak tak henti-henti menggerogoti sel-sel syaraf. Padahal pekerjaan ini gue dapatkan karena gue ‘dipercaya’, dan pekerjaan ini juga gue dapatkan karena tulisan-tulisan di blog ini—sayangnya, gue nggak bisa mewujudkan itu jadi nyata.

Sekali pun gue udah mendapatkan datanya—rasa-rasanya kata-kata di kepala enggan untuk menunjukan eksistensinya. Segalanya tercekat di ujung tenggorokan. BEDEBAH!

Meski teman-teman selalu mendukung, dan nggak jarang hujatan pun sampai ke telinga gue ditambah ada beberapa orang yang mengharapkan gue tinggal—tapi rasanya untuk tetap tinggal dengan jobdesk ini adalah malapetaka buat gue.

Mereka nggak tau—gue hampir bipolar. Pada awalnya gue memainkan mood karena program satu dengan program lainnya membutuhkan mood yang berbeda—sampai akhirnya mood ini malah mempermainkan gue. Nggak jarang setelah gue ketawa gila—abis itu gue nangis kejer. Kenapa gue jadi se-maso ini? Selama 1 tahun gue kerja, Cuma dibanjirin air mata. Gue gak bahagia. Bukan karena teman-teman, gue pun bukan korban bully. Malah gue juga doyan ngebully orang. Gaji di kantor gue juga oke banget, urusan libur kantor juga gak ribet. Enak kan? Tapi GUE BENCI PEKERJAAN INI. Semakin gue berusaha berdamai dengannya, justru gue digampar hingga gue enggan berdamai lagi.

Ditambah lagi, ketika gue berada di posisi ini dan menangis sesenggukan di kantin atas—dengan teganya dia ngehujat gue—di depan teman-teman gue yang lain. Gue butuh support, bukan bully-an. Awalnya gue udah tenang, lalu dia bilang kalua dia dapet lowongan kerja di tv tetangga dia mau bawa temen gue. Di situ gue bilang, “bawa gue juga dong…” dan dia bilang, “Ogah… lo mental tempe…”

Oke, gue mungkin masih tergolong lemah. Tapi, pelis nggak kayak gitu juga jawabnya. Setelah kejadian itu gue BERSUMPAH akan cari pekerjaan baru tanpa melibatkan dia sama sekali. Persetan sama dia. Lalu, ketika gue menjauh darinya… dia ngomong ke temen gue kalau gue berubah. TOOOOLOOOOLLL! Gue cuma bisa ketawa.

Setelah kejadian itu, masih ada kejatuhan gue lainnya di mana setiap gue pulang ke kost atau ke rumah lebih sering nangis, nangis, dan nangis. Rasanya lebih sakit daripada diputusin.

CUKUP!!!! CUKUPPPPP!!!!!

Gue lelah…. Gue ingin putus darinya. Kita nggak cocok. Berusaha mencocokan kalo gak sejalan pun percuma, kan? Mungkin gue bakat nulis—tapi, rumah gue bukan di sini.

Hingga surat resign itu pun melayang ke Manager HR dan disetujuinya. Rasa-rasanya batu besar di punggung melebur jadi arang. Lega…

Gue berprinsip…. Lebih baik jadi yang baru daripada hanya sekedar revision. Ini adalah kegagalan yang sangat berarti.

Di sisa waktu, gue berusaha keras melamar ke perusahaan yang memang menyediakan pekerjaan yang gue mau. Dua perusahaan, sebut saja X dan Z.

Ketika gue mengirim email ke X, alhamdulillah gak dipanggil, jadi gue menganggap itu failed. Lalu, gue melamar ke Z dan langsung dipanggil untuk wawancara HR dan User. HR menawarkan gue posisi copywriter karena mereka bilang lagi butuh, gue Cuma bisa nyengir dan menolak dengan halus. Lalu, 3 hari berlalu perusahaan X menawarkan gue untuk posisi copywriter (lagi) dan gue bersikukuh ingin social media jika berkenan. Padahal gue kira gue failed LOL tapi sepertinya perusahaan X ini bukan jodoh gue. Dari pagi dateng interview banyak banget ujian di jalan. Berbeda ketika gue datang ke perusahaan Z dari awal gue dateng tepat waktu ditambah lagi ada satu 'klik' yang aneh gue rasain sama users gue. Gue juga bingung apa. Bukan naksir, pokoknya 'klik' aja gitu. Sebetulnya dengan perusahaan X pun gue ngerasa "klik" tapi rasa pesimis karena banyak ujian di jalan. Kedua perusahaan itu adalah kantor impian gue! Perusahaan start up yang udah gue incar sejak jaman masih fresh graduation LOL

Gue udah nggan berdamai dengan profesi itu.
SEMUA UDAH CUKUPPPPPP!!!!

Bahkan, ketika gue di Padang dan merenung di rimbunnya pepohonan #ceile hati udah mengarahkan untuk berhenti. Ketika waktu semakin dekat, hati juga mengarahkan untuk stop. Meski sempat terpengaruh teman-teman yang meminta gue bertahan, tapi hati gue menolak. Intuisi gue memaksa gue untuk berhenti. Jika dilanjutkan, gue bakal lebih hancur dari ini. Gue harus lepasin semuanya.

Lalu, untuk meyakinkan gue pun iseng coba tanya ke teman yang bisa main tarot dan hasilnya sesuai prediksi gue. Ok, it's fine... Kartu deretan atas adalah kemungkinan jika gue keluar, sedangkan kartu deretan bawah adalah kemungkinan jika gue bertahan.

(thanks Ami)


Dan tibalah waktunya… untuk gue melangkah pergi.


Thanks buat pelajaran yang sangat berharga satu tahun ini. Semoga kita tetap bisa bertemu di lain waktu.

You Might Also Like

0 Komentar