Never Come Back

  • Sunday, April 13, 2014
  • By Penulis Cabutan
  • 0 Comments



“Jadi, kamu berpikir dengan uang melimpah kamu bisa membeli kebahagiaan buatku?”

Ya, memang dengan kekayaan kamu bisa membeli dunia, kamu bisa pergi ke manapun yang kamu mau, kamu bisa membelikan pasanganmu apapun—apapun yang kamu kehendaki. Kamu bisa membeli tiket konser VVIP, berkelana di Dunia Fantasi, pergi ke Bali, Paris, Hongkong, Jepang, dan Negara manapun yang kamu kehendaki. Tapi, apa kamu yakin kamu telah membahagiakan pasanganmu?

Dengan kekayaan juga kamu bisa mengendalikan orang lain, membayar siapapun yang menghalangi, membeli gadis penghibur, membeli makanan mahal di restoran branded. Kamu bisa melakukannya—bersama pasanganmu. Lalu? Apa pasanganmu bahagia?

Ya, jika pasanganmu hanya butuh kekayaanmu saja—aku yakin. Kamu hanya memberi kekayaan—tidak hal lain—seperti drama dalam romansa—kamu tetap cuek—tetap cuek dan hanya mengurusi game Pico-mu dan berpacaran dengan gadis lain—lalu, hubungan dalam game itu dijadikan nyata—miris. Ditambah kamu miskin kabar, kamu hanya menghubungi disaat hasrat birahi lagi memuncak—laki-laki murahan macam apa kamu? Lalu, jika kamu tidak mendapatkan dari pasanganmu—kamu cari pelampiasan lain—sampai dapat. Tidak peduli dengan komitmen dan usiamu yang menginjak 25 tahun—tidak, tidak peduli. Yang penting senang. Sedangkan, pasanganmu merana? Jatuh, hancur berkeping-keping—meracau galau kepada teman-temannya. Hingga akhirnya kamu ditinggalkan dan kamu tidak terima karena “merasa” sudah membahagiakan pasangan dengan materi bodohmu itu? Jadi, apa kamu masih berpikir kalau dengan materi kamu bisa membahagiakannya? Tanpa berkaca. Padahal hal yang bersifat abstrak itu pun penting untuk kamu lakukan—jika kamu memang menyadarinya.

Lihat mereka yang sederhana tapi mampu merekahkan senyum teduh tanpa beban. Padahal hidup pas-pasan tapi mereka tetap bahagia—karena apa? Karena afeksi itu kuat! Rejeki diusahakan selalu ada untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mereka makan bersama di ruang keluarga dengan ala kadarnya—mereka tidak memiliki soundsystem yang canggih seperti di rumah-rumah orang gedongan—tapi, mereka akrab dan saling menjaga.

Karena pada dasarnya, materi dan hal abstrak itu sebaiknya seimbang.

Apa kamu paham apa itu hal abstrak? Ya, cinta, perhatian, pengertian, kejujuran, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Lalu, diimbangi dengan materi dan kualitas diri. Jika kamu menyadarinya. Kamu tak pernah menyadarinya—bahkan aku yakin setelah kamu lepas dariku pun kamu tidak menyadarinya.

Ketika bersamaku—kamu selalu bilang, “Aku gak bisa bahagiain kamu—aku gak punya uang!” Tolol—padahal jika kamu menyadari betapa pentingnya hal abstrak itu untuk diberikan—aku yakin kamu bisa lebih baik lagi.

Lalu, setelah lepas dariku—dan kamu sudah bekerja—kamu sudah memiliki gaji pokok sebagai seorang programmer—kau berikan hasil jerih keringatmu untuk bersenang-senang—pergi ke seluruh tempat yang kalian mau. Tidak lupa kau publis semua di jejaring social—berbeda sekali denganku yang selalu disembunyikan dari duniamu sampai aku hamper gila. Lalu? Apa yang kamu dapatkan sekarang? Apa wanita itu masih di dalam genggaman?

Dan lihat aku sekarang?

Setelah aku lepas darimu—setelah semua berakhir di bulan Oktober itu. Aku segera bangkit untuk menjalani sebuah kehidupan yang pada saat itu kuharap bisa jauh lebih baik. Aku sama sekali tidak butuh waktu lama untuk bangkit—karena kamu yang membuat. Hatiku saja sudah tidak ada—sama sekali—jadi, jangan salahkan aku jika waktu itu aku segera berlari mencari pria lain yang aku harap jauh lebih bisa menjagaku. Aku lelah dengan tipuan—tipuan yang selalu membuatku merasa perih—sakit—luka.

Dan apa kamu lihat aku sekarang?

Ketika kamu merana dengan hubunganmu dan mencoba kembali ke duniaku melalui blog pribadiku—kehidupanku berbanding terbalik dengamu—sayang sekali semua sudah terlalu terlambat.

Orang itu, dia telah mengisi hatiku lebih dari satu tahun, memberikan hal-hal yang out of the box—dan tentu saja membuat hidupku berubah. Aku dan dia—kami saling memberi—semuanya seimbang—dia pun orang pertama yang memberikanku kado di saat aku ulang tahun—aku terharu sekali. Yah, walaupun dia belum bekerja sepertimu, tapi aku melihat sebuah usaha untuk membahagiakanku. Meskipun aku dan dia terlibat LDR tapi—itu bukan sebuah penghalang. Karena dia selalu memberikan hal abstrak yang aku katakan sebelumnya—diimbangi dengan materi. Maka dari itu, hubungan kami sangat berkualitas. Aku tak perlu banyak bercerita tentang dia—itu hanya membuatmu sakit—karena pada akhirnya aku akan membandingkan.

Dulu aku selalu depresi dengan hubunganku—namun, saat ini aku mendapatkan kebahagiaanku—bersamanya.

Dan semoga kamu bisa menangkap tulisanku ini.

You Might Also Like

0 Komentar